AKTIVITAS KITINASE Serratia marcescens PT 6 PADA BERBAGAI RASIO KONSENTRASI PATI DAN YEAST EXTRACT

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Kemelimpahan limbah cangkang udang sebagai hasil dari industri pembekuan udang di Indonesia belum dimanfaatkan secara makasimal. Berdasarkan data BPS, produksi total udang dan kepiting dari Indonesia rata-rata mencapai setidaknya 160.000 ton/tahun. Dengan asumsi bahwa 25 persen dari berat tersebut adalah cangkangnya, maka limbahnya dapat mencapai 40.000 ton/tahun. Salah satu produk yang dihasilkan dari pemanfaatan cangkang udang yaitu N-asetilglukosamin  (NAG). NAG dihasilkan melalui reaksi hidrolisis kitin dengan bantuan enzim kitinase.

N-asetilglukosamin (GlcNAc) merupakan suatu monomer kitin  yang mempunyai rumus molekul C6H15NO6 yang terdiri dari 6,9% campuran murni nitrogen dengan struktur kimia yang sama dengan selulosa namun berbeda pada unit asetil amino(CH3COONH2) (Pasaribu, 2004). Pemanfaatan senyawa N-asetilglukosamin  (NAG) saat ini banyak digunakan di bidang pangan dan farmasi. Khusniati et al. (2012) menyatakan bahwa pemanfaatan NAG  pada bidang industri pangan  yaitu sebagai suplemen produk susu  ultra high temperature  atau UHT. Menurut Wirawan dan Nuniek (2013) pemanfaatan NAG pada bidang farmasi yaitu sebagai obat untuk mengontrol kadar gula dalam darah, sebagai suplemen, dan anti inflamantori. Untuk kosmetik, senyawa gula ini dapat membantu mengurangi hilangnya hiperpigmentasi, karena N-asetilglukosamin dapat membantu mengurangi aktivitas enzim tirosinase yang berperan dalam produksi melanin.

Bakteri kitinolitik adalah bakteri penghasil kitinase yang berperan dalam mendegradasi kitin.  Brzezinska & Donderski (2001) menyatakan bahwa  bakteri menghasilkan  kitinase  untuk  mendegradasi kitin sehingga diperoleh  NAG  yang berfungsi sebagai sumber nitrogen dan karbon untuk proses hidup bakteri. NAG yang berupa monomer dari kitin dihasilkan melalui pemotongan dimer atau kitobiosa oleh β-1,4-N-Asetilglukosaminidase,  yang juga merupakan bagian dari kitinase (Shakhbazau & Kartel, 2008). Serratia marcescens dilaporkan memiliki kemampuan efektif dalam mendegradasi kitin  serta merupakan  salah satu bakteri yang memiliki aktivitas kitinolitik  (Muharni, 2009). Read More

Enzyme pada Produk Perikanan

Enzyme

Specialty product -> menggunakan enzim

Traditional product -> menggunakan selain enzim (eg: fresh, canned, dll)

 

Specialty product :

  • Fish gelatin
  • Fish protein
  • Carotern protein
  • Chitin
  • Surimi

Enzim dari ikan dan perairan

Keuntungan : aktif bekerja pada suhu yang sering digunakan pada pengolahan

  • Collagenase : melepas kulit cumi-cumi, caviar (melepaskan selaput telur)
  • Lysozyme : memperpanjang daya simpan -> agen bakteriostatik
  • Trypsin : industry caviar, ekstraksi caroteprotein

Read More

estraction dan isolasi komponen kimia dari ikan dan shellfish

ekstraksi : mengeluarkan suatu senyawa dari bahan secara fisik maupun kimia (asam, basa)

ekstraksi : mengeluarkan suatu senyawa dari bahan secara fisik maupun kimia (asam, basa)

metode ekstraksi :

– Cara dingin : semuanya dalam kondisi dingin, treatment berada pada perlakuan yg lain seperti pengadukan

– Cara panas  : panas dikombinasikan dengan bahan kimia yang reaktif sbg ekstraktor
contoh : ekstraksi minyak methil ester/biodiesel  Read More

Seafood Traceability

Seafood Traceability

– globalisasi -> perluasan jarak dan waktu, menyebabkan peluang terjadinya food diseas
– smart customers -> transparancy -> traceability

Label :
– adanya kasus keracunan akibat pangan seperti e.coli, listeria, salmonella
– besarnya jumlah produk recall
– masuknya produk dengan standar rendah dari berbagai negara
– peningkatan kerusakan dan kontaminasi
– adanya bioterorism

Traceability (ketertelusuran)
– alat manajeman risiko dalam food safety
– termasuk dalam ISO 9000
– penting karena : membantu planning, response, recovery dan recall perusahaan. Read More